Jumat, 12 Oktober 2012

PSSI Tak Mau Mengulang Kegagalan Proyek Primavera dan Baretti

Oleh: Aditya

PSSI akan mengirim tim nasional sepak bola usia 23 tahun (U-23) ke akademi La Masia Barcelona, Spanyol pada 2013. Bersama sejumah pelatih, mereka akan mengikuti pendidikan di sana.

Bob Hippy, Koordinator Pengiriman Tim mengungkapkan, para pemain yang bakal dikirim jumlahnya ada 20 orang. Mereka diseleksi dulu di sini, setelah lolos baru dikirim.

“Selain pemain kami juga mengirim pelatih dan staf pelatih agar ikut berlatih,” jelasnya.

Dia yakin pemilihan pemain yang dikirim ke luar negeri saat ini, jauh lebih selektif dibandingkan sebelumnya. Kalau dulu pemain yang dikirim bukan berasal dari kompetisi, sementara sekarang semuanya dari hasil kompetisi.

“Kalau dulu gagal, karena ada pemain yang menbayar agar bisa dikirim," cetus mantan pemain nasional di era 1960-an itu.

Sebagai catatan, PSSI juga pernah mengirim anak-anak muda Indonesia ke Italia untuk berlatih di awal era 1990-an. Proyek tersebut dikenal dengan nama 'PSSI Primavera' dan 'PSSI Baretti'. Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Kurnia Sandy, Aples Tecuari dan Alexander Pulalo adalah sebagian alumni proyek tersebut yang lalu menjadi tulang punggung tim nasional Indonesia sampai akhir 1990-an.

Dari sisi metode, pendidikan di Barcelona, terutama terkait dengan pola permainan bola pendek dinilai cocok untuk mengimbangi kondisi fisik pemain Indonesia. Dengan pola ini, kata Bob, pemain bisa menjaga untuk tidak kehilangan bola di lapangan. Sehingga, tidak terjadi benturan-benturan fisik ketika berduel di lapangan.

Soal pilihan yang jatuh kepada La Masia Barcelona, alasan yang disampaikan Bob sederhana. Sebab hanya mereka yang mengajukan penawaran untuk melakukan pelatihan dan pendidikan. “Bukan Ajax Academy atau Manchester United Academy, karena baru La Masia Barcelona yang mengajak. Lagipula mereka juga bagus kok di Spanyol sana,” tuturnya.

Bernhard Limbong, Penanggung Jawab Timnas PSSI, menambahkan ada tawaran pelatihan dari Belanda. “Presiden olahraga Belanda menawarkan kami untuk mendapatkan pendidikan sepak bola pada Agustus-September 2013. Mulai Januari kami akan mengadakan turnamen untuk menyeleksi pemain yang disiarkan di RCTI,” jelasnya.

Soal perbedaan kondisi sekarang dengan suasana pengiriman pemain ke luar negeri pada era 1990-an, Limbong mengakui hal itu. “Saat ini pemain terikat dengan klub. Jadi para pemain akan memilih untuk memprioritaskan timnas atau klubnya,” kata dia.

Ketua Komisi Disiplin PSSI ini juga menegaskan, pengiriman pemain ke Barcelona untuk berlatih merupakan proyek jangka pendek. Sementara mengirim pelatih adalah proyek jangka panjang.

“Kami ingin Timnas Indonesia mampu memboyong medali emas di Myanmar, saat SEA Games 2013 berlangsung,” harap jenderal bintang satu TNI-AD itu.

Terkait dengan dana yang dikeluarkan untuk pengiriman dan pendidikan pemain Timnas U-23 ini, Bob Hippy mengaku semuanya diurus oleh penyelenggara acara (EO – Event Organizer) di Jakarta. “Kami sudah menunjuk satu orang yang mengurus masalah dana dan teknisnya,” urai Bob.

Menanggapi rencana pengiriman pemain U-23 ini, wartawan olah raga Kompas, Agung Setyahadi menyambut positif. Tapi dia menyadari, mengikuti pendidikan di La Masia Barcelona bukan berarti langsung mendongkrak permainan dan prestasi timnas Indonesia.

“Mental para pemain serta performa para pemain tidak akan langsung berubah menjadi bagus. Namun mereka pasti mendapatkan pengalaman,” ujarnya.

Bagi Agung, pembinaan pemain usia muda saat ini belum sistematis. Tidak ada kompetisi yang bergulir secara rutin.

“Kompetisi U-10, U-14, U-16 sampai U-21 ke atas dan seterusnya itu masih belang-bentong. Seharusnya dipikirkan secara fokus karena dari kompetisi yang berjenjang kita bisa mengamati bibit-bibit yang bagus,” jelasnya.

Agung menyarankan agar meningkatkan performa timnas bukan hanya mencomot pemain yang pernah mengecap pendidikan sepak bola di luar negeri, tetapi dari kompetisi bermutu yang rutin bergulir.

“Kompas-Gramedia punya kompetisi untuk pemain muda, tapi itu hanya untuk di kota. Daerah pasti menginginkan hal serupa, sementara perusahaan tidak mampu mengelolanya. Jadi yang bisa mencakup secara keseluruhan seharusnya PSSI” ungkapnya.

Dia juga menuturkan satu hal penting yang tak bisa ditinggalkan adalah faktor non-teknis. Misalnya soal table manner. “Pengalaman U-16 di Uzbekistan, para pemain tidak mau mengonsumsi makanan-makanan Eropa dan lebih memilih makan mie. Akhirnya mereka mengalami diare dan tentu saja mempengaruhi performa mereka. Kalau pemain seniornya mungkin sudah bisa beradaptasi,” imbuhnya.

Agung juga menilai daripada harus mengirim pemain untuk mengenyam pendidikan sepakbola di luar negeri, ada baiknya dana tersebut di alokasikan untuk membuat kompetisi di dalam negeri. “Uang yang dikeluarkan tidak sedikit jumlahnya, sayang kalau tidak menghasilkan apa-apa,” sarannya.

sumber : http://id.olahraga.yahoo.com/news/soccer--pssi-tak-mau-mengulang-kegagalan-proyek-primavera-dan-baretti.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar